#LewatDjamMalam

Latar Belakang
Sejak mulai terciumnya informasi hasil restorasi film “Lewat Djam Malam” pada bulan April 2012 dan rencana pemutaran film tersebut untuk umum lewat jaringan bioskop nasional di bulan Juni, mulai terasa masyarakat awam sulit mengakses perkembangan berita di media mainstream. Padahal biasanya, penayangan film di Indonesia didahului dengan kerja publisis dan publikasinya telah dilancarkan secara gencar jauh-jauh hari untuk menimbulkan animo publik.

Informasi yang diberikan seperti berhenti entah di mana, padahal untuk film sepenting “Lewat Djam Malam” rasanya mustahil bisa langsung “laku” di masyarakat tanpa katakanlah sebuah “pengantar”. Film “Lewat Djam Malam” diproduksi sutradara Usmar Ismail tahun 1953 dan pernah beredar di tahun 1954, tepatnya 58 tahun lalu. Ada rentang jarak demikian jauh dan informasi yang memadai akan film ini hanya bisa ditemukan sepotong-sepotong di berbagai arsip.

Lalu, bagaimana membuat film “Lewat Djam Malam” ini kembali kontekstual untuk di-“tonton” kembali dengan generasi penonton yang sangat berbeda jauh dari kondisi 58 tahun lalu? Juga dengan isi kepala masyarakat awam yang telah dipenuhi dengan apriori pada kualitas film Indonesia? Inilah tantangan yang harus ditaklukkan dengan komunikasi yang baik.

Tindakan
Inisiatif Tanam Ide Kreasi untuk terlibat dalam mempublikasikan film “Lewat Djam Malam” awalnya digerakkan oleh semacam kecemasan akan tidak tersedianya informasi paling sederhana: kapan film ditayangkan, di bioskop mana saja, seperti apa ceritanya, apa yang bisa diharapkan masyarakat lihat di dalam film ini. Lebih lanjut lagi, ada kegelisahan untuk terlibat dalam kerja lebih besar yakni dalam upaya menyelamatkan warisan budaya visual Indonesia dan bagaimana melibatkan masyarakat umum agar berpartisipasi aktif mendukung upaya ini, dengan tindakan sesederhana seperti secara sukarela menonton kembali film ini. Maka akhirnya diputuskan melakukan kampanye social media dengan muatan informasi #LewatDjamMalam.

Berkaca dari gerakan #KamiskeBioskop di social media, kunci untuk bisa mendekati generasi penonton film Indonesia adalah pertama-tama ‘menyediakan jawaban paling mendasar’: “apa sih untungnya bagi saya menonton film klasik ini“. Beruntung sudah ada buku Katalog Film Indonesia dan Sejarah Film Indonesia 1900-1950 yang bisa menjawabnya. Tinggal melakukan persilangan informasi mengenai sejarah negeri ini pada setting film “Lewat Djam Malam”. Data-data telah tersedia dari koran lokal Bandung dan juga catatan sejarawan atas peristiwa-peristiwa di satu dekade pertama pasca kemerdekaan. Itulah amunisi informasi yang digunakan untuk menceritakan film “Lewat Djam Malam” ini kembali di social media.

Hasil
Karena rentang waktu dan keterlibatan insidental ini, targetnya kampanye social media ini sederhana saja: membuat film “Lewat Djam Malam” ini dibicarakan dan ditonton kembali. Pencapaian banyak ditopang oleh upaya-upaya lain dari organisasi seperti Kineforum, Konfiden, Cinema Poetica, dan individu-individu yang ingin melihat film ini sukses di masyarakat, paling tidak bisa beredar selama 8 minggu di jaringan bioskop tanpa putus.

Dari segi awareness, paling tidak cukup banyak masyarakat yang tahu lewat twitter dan memanfaatkan informasi yang tersedia di blog khusus “Lewat Djam malam” di http://lewatdjammalam.wordpress.com atau http://lewatdjammalam.blogspot.com total sebanyak 3.341 orang (per Agustus 2012). Dari segi penjualan tiket, data yang disediakan Totot Indrarto dari filmindonesia.or.id paling tidak ada 6.000 lebih penonton (21 Juni – 16 Agustus). Jauh di bawah target semula yang mencapai 10.000 penonton.

Dan yang terutama, inisiatif Tanam Ide Kreasi ini ikut dilibatkan dalam kerja-kerja penyelamatan warisan budaya visual berikutnya dan dipercaya ikut membidani lahirnya gerakan Sahabat Sinematek, inisiatif warga untuk menyelamatkan sejarah, pada bulan Agustus 2012, dimana pendiri Tanam Ide Kreasi terpilih menjadi Sekretaris Pengurus Sahabat Sinematek 2012-2016.