#SavePustakaJaya

Latar Belakang

Siapa tak kenal Pustaka Jaya? Menyebut namanya, paling tidak ada dua hal yang paling kita ingat. Pertama, dia adalah penerbit buku sastra bermutu. Kedua, nama besar sastrawan Ajip Rosidi yang membesarkannya. Menurut Ajip Rosidi dalam buku otobiografinya, “Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam Dalam Kenangan,” lahirnya Pustaka Jaya bukanlah hasil dari suatu seminar atau pertemuan para sastrawan. Ia berawal dari sebuah percakapan ringan di awal 1970-an antara dirinya dengan Ali Sadikin yang menjabat gubernur Jakarta waktu itu. Ajip Rosidi mengatakan, “Kebanyakan penerbit, terutama mendahulukan mencari keuntungan, sehingga menerbitkan buku itu hanya yang nyata-nyata dicari oleh masyarakat. Penerbit buku bacaan yang baik, seperti dahulu Balai Pustaka tidak ada lagi. Dahulu pemerintah Hindia Belanda memberikan subsidi untuk Balai Pustaka, tapi pemerintah kita tidak. Bahkan Balai Pustaka pernah diberhentikan fungsinya sebagai penerbit. Hanya dijadikan percetakan saja,” urai Ajip kepada sang Gubernur. Akhirnya Ali Sadikin setuju mendanai penerbitan baru. Juga sejumlah pengusaha. Pada Mei 1971, penerbit itu pun resmi berdiri.

Ajip berpendapat bahwa yang pertama-tama harus dia jual bukanlah produk buku, melainkan gagasan. Gagasan agar para guru dan orangtua mendidik anak-anaknya supaya suka membaca. Soalnya, bagaimana meningkatkan kegemaran membaca di kalangan anak-anak sejak usia dini. Ajip sering berkeliling ke sekolah-sekolah dasar maupun menengah di Ibu Kota maupun di luar Jakarta. Dia berkeliling untuk memberikan ceramah-ceramah tentang pentingnya siswa banyak membaca dan pentingnya sekolah memiliki perpustakaan.

Hasilnya segera tampak! Pembaca merespons. Dalam katalog daftar buku tahun 1984, tercatat Pustaka Jaya waktu itu telah menerbitkan lebih dari 600 judul buku dengan lebih dari 10 juta eksemplar. Itu artinya, hampir setiap minggu ada buku baru yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Dan dari jumlah 10 juta eksemplar itu, lebih dari sembilan juta terserap oleh perpustakaan-perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum.

Tantangan

Pustaka Jaya kini perlu diselamatkan! Kekeliruan kebijakan dan salah urus di era 1990-an membawanya ke tepi jurang. “Kami anfal tahun 90-an.” Kerjanya hanya mencetak ulang buku-buku lama untuk bertahan hidup. Pembenahan dilakukan dengan memperbaiki sistem. Tapi masih ada yang kurang.

Jika penerbit lain telah memiliki website dan memanfaatkan media online untuk memasarkan buku-buku mereka, tidak demikian halanya Pustaka Jaya. Menurut manajernya, Ahmad Rivai, dunia maya atau website baru berupa angan-angan, belum merupakan prioritas. Ia menyebut krisis keuangan yang dialami Pustaka Jaya dahulu cukup parah. “Ibaratnya, sakit yang kami alami telah memasuki stadium dua. Sehingga sampai sekarang Pustaka Jaya masih dalam tahap pemulihan supaya bisa kembali menjadi perusahaan yang sehat,” kata Rivai.

Maka dari itu mengharapkan Pustaka Jaya kembali sehat membutuhkan uluran tangan pembaca, terutama para pembaca setia yang dulu menikmati booming buku sastra bermutu dari Pustaka Jaya! Mari selamatkan Pustaka Jaya bersama-sama.

Sumber penulisan:
1. Seluruhnya berasal dari artikel “Pustaka Jaya: Masih di Jalur Bahasa/Sastra” karya Sahala Napitupulu, majalah TAPIAN edisi Maret 2009
2. Pertemuan Amat Semangat dengan Ahmad Rivai, 4 Oktober 2011

DAFTAR BUKU PUSTAKA JAYA YANG DITARIK ULANG DARI TOKO2 BUKU:
NO. JUDUL
01. Mahabarata
02. Ramayana
03. Hidup Tanpa Ijazah
04. Prajurit Schweik
05. Anak Tanah Air
06. Masyitoh
07. Puisi Indonesia Modern
08. Kiai Haman Dja’far dan Pondok Pabelan
09. Si Kabayan
10. Catatan dari Bawah Tanah
11. Rumah Tangga yang Bahagia
12. Munculnya Elit Modern Indonesia
13. Dataran Tortilla
14. Haji Murat
15. Tiga Pesona Sunda Kuna
16. Cinta Pertama
17. Romeo dan Julia
18. Oidipus Sang Raja
19. Rubaiyat Umar Khayyam
20. Korupsi dan Kebudayaan
21. Orang dan Bambu Jepang

Solusi

Membangun kampanye social media dengan tujuan membangun awareness pada masalah yang menimpa penerbit Pustaka Jaya dan membangun kelompok pembaca peduli yang akan melakukan kegiatan mendukung sosialisasi produk-produk Pustaka Jaya.

Kampanye dibangun lewat:

BLOG “DEMI PUSTAKA JAYA”

Blog "Demi Pustaka Jaya"

FACEBOOK PAGES “PUSTAKA JAYA”

Facebook Pages Pustaka Jaya

TWITTER HASHTAG #SavePustakaJaya

Twitter Campaign #SavePustakaJaya

Hasil
Awareness publik terbangun dan kampanye #SavePustakaJaya meraih simpati publik.

Terdapat pembelian secara online atas produk-produk buku Pustaka Jaya yang menumpuk di gudang. Sebanyak 119 judul buku terjual lewat online selama Oktober – Desember 2011.

Harian nasional Detik meliput kampanye ini dan menurunkan tulisan khusus dalam liputan dunia perbukuan.

dan pada Juni 2012, Pustaka Jaya akhirnya terselamatkan. Tidak dibubarkan seperti yang dicita-citakan oleh kampanye ini malah Pustaka Jaya selamat.